Si Manis Putih Abu Abu
Aku mencintai
kucing. Bulu halus nan indah, wajah imut nan lucu. Tapi kucing yang ini
berbeda. Aku mencintai ‘Si Manis Putih Abu Abu’ bukan karena bulu halusnya.
Bukan juga karena wajah imut nan lucunya. Entah kenapa aku mencintainya.
Kalau orang bertanya kenapa aku mencintainya, Aku diajari Azhar
Nurun Ala untuk menjawab aku mencintainya karena aku mencintainya. Cukup.
Bukankah cinta tidak perlu alasan?
Setahuku cinta butuh kepastian. Juga kesetiaan.
Aku mencintai ‘Si Manis Putih Abu Abu’ saat aku pertama melihatnya,
masih dalam suasana Hari Raya. Dia tiba tiba datang, namun tak sendirian. Dia
bersama orang tuanya.
Keluargaku menyambutnya dengan hangat. Diberi suguhan karena masih
dalam suasana Hari Raya. Maklum, jajananan Ied al-Fithri masih banyak tersisa.
‘Si Manis Putih Abu Abu’ tidak terlalu menikmati jajanan yang disediakan. Tapi
aku yakin, dia menikmati kehangatan yang keluargaku berikan.
Aku ingin merawat ‘Si Manis Putih Abu Abu’ dengan penuh harapan dan
pengertian. Harapan untuk kehidupan yang akan datang. Dan pengertian saat ‘Si
Manis Putih Abu Abu’ barangkali me’ngeong’ berang yang tak sanggup kuhentikan.
Entahlah.
Namun keinginan hanya sebatas keinginan. Tidak akan terwujud tanpa
ada usaha dan kesempatan yang datang.
Kesempatan untuk merawat dan mencintainya pun hilang ketika ia
pergi. ‘Si Manis Putih Abu Abu’ dibawa orang tuanya pulang. Tanpa berani
kuhentikan. Tanpa berani kupanggil datang.
Sudahlah. Mungkin ‘Si Manis Putih Abu Abu’ akan datang kembali.
Bukan sebagai tamu yang biasa. Tetapi sebagai tamu yang ‘Istimewa’.
Si Manis Putih Abu Abu
Reviewed by Unknown
on
Januari 06, 2018
Rating:
Reviewed by Unknown
on
Januari 06, 2018
Rating:


Tidak ada komentar